Kasih………..
Harus sampai kapan aku memendam rindu ini
Haruskah aku berlaku layaknya Gunung Merapi?
Oh tidak kasih,aku tak ingin melukaimu
Aku ingin seperti bunga-bunga yang lain,
Berbagi madu yang kupunya namun hanya denganmu
Dengan kumbang yang lembut yang selalu menjadi penantianku
Kasih……….
Kapankah datangnya musim semi itu?
Agar kita dapat kembali memadu kasih dalam kedamaian dan keindahan anugrah-Nya
Kasih……….
Jika telah datang musim semi itu,
Tau kah kau apa yang ku mau?
Aku ingin musim semi kali ini adalah musim semi terpanjang sepanjang sejarah manusia
Aku tak ingin datangnya musim gugur itu…..
Egois kah aku kasih………?
Tidak,aku inginkan ini karena aku inginkan mu selalu ada untukku
Pikiranku melayang seperti anak panah mengiris hati
Kekhawatiran menjadikan aku seperti letupan perih
Letupan perih karena terpisah
Dari seseorang yang menjadi pijakan pertama
cintaku
Aku resah dalam kesunyian
Aku merasai tiap goresan pilu yang menohok palung-palung ragaku
Kekasih
Ketika kegelisahan ini menyeruak dalam luapan hatiku
Kau tahu betapa aku makin tak kuasa
Menahan beban kerinduan ini
Aku semakin tak biasa karena tak melihat senyum dari
Auramu yang merona
Hatiku makin perih ketika tak mendengar senandungmu kala malam
Aku semakin histeris
Ketika tak mendengar lantunan kidung suci yang
Kau pelukkan dalam jiwa ini
Meski hanya selintas baying saja.
Rabu, 10 November 2010
Rabu, 03 November 2010
aereca02sevado@gmail.comDenominasi Rupiah?
Apa Untung Ruginya?
Ya,wacana yang di keluarkan BI sebagai bank central Indonesia belakangan ini telah menyedot perhatian banyak pihak,bahkan menghadirkan keresahan dikalangan masyarakat menengah ke bawah.BI merencanakan program Redonominasi rupiah. Redonominasi rupiah atau yang lebih dikenal dengan istilah Denominasi Rupiah ini merupakan satu istilah ekonomi yang berkaitan dengan nilai tukar mata uang.
Denominasi berarti pemangkasan tiga nol dibelakang mata uang,jadi misalnya RP.5000.- akan menjadi Rp.5,-begitu juga seterusnya. Jadi,siapkah anda yang sekarang menerima gaji misalnya Rp.3.500.000,- akan menerima uang sebesar Rp.3.500,- saja? Pasti banyak yang tidak siap bukan?mau beli apa dengan uang Rp.3.500,-?
Pada saat pemberlakukan ‘sanering’, di tahun 1950-an, kurs rupiah terhadap dolar AS di level Rp 10. Tapi, makin lama nilainya terus merosot akibat inflasi. Sanering, lebih dikenal sebagai gunting Syafrudin yang menjabat sebagai menteri keuangan. Sanering dilakukan terhadap uang rupiah bernilai Rp 100 dengan gambar macan dan Rp 50 dengan gambar gajah. Karena itu, disebut uang macan dan uang gajah dipotong. Seperti juga gunting Syafrudin.
Dia memerintahkan agar seluruh uang merah (NICA) dan uang De Javasche Bank (kini BI) yang bernilai Rp 5 ke atas digunting menjadi dua bagian. Potongan bagian kanan tidak berlaku, bagian kiri nilainya jadi setengah (50%).
Bung Karno juga melakukan ‘sanering’ satu bulan setelah kembali ke UUD 1945 yakni 24 Agustus 1959. Sanering dilakukan terhadap uang rupiah bernilai Rp 100 dengan gambar macan dan Rp 50 dengan gambar gajah. Karena itu, disebut uang macan dan uang gajah dipotong. Seperti juga gunting Syafrudin.
Nah,hal seperti ini yang sekarang sedang meresahkan masyarakat. Masyarakat kita masih trauma dengan kebijakan Sanering Rupiah 31 Desember 1965 yang pernah berlaku saat masa pemerintahan Orde Lama-Presiden Soeharto dulu. Saat itu Soekarno memangkas nilai Rp.1000,- menjadi Rp.1,-. Caranya: uang lama ‘rupiah glabak, karena dicetak dalam lembaran besar’ yang beredar, umumnya bernilai Rp 50, Rp 100, Rp 500, Rp 1000, Rp 5000 dan Rp 10.000 ditarik oleh Bank Indonesia, kemudian ditukar menjadi 5 sen untuk Rp 50, 10 sen untuk Rp 100, dan 50 sen untuk Rp 500, lalu Rp 1 untuk Rp 1000, Rp 5 untuk Rp 5000, serta Rp 10 untuk baru Rp 10.000 lama.
Mengapa hal ini bisa terpikirkan oleh pemerintah? Bukankah hal ini sama dengan memasuki lubang yang sama?yang jelas menyengsarakan bangsa?
Banyak kalangan menilai bahwa kebijakan BI itu sangat berbahaya,tidak ada urgensinya,dan inflatoir. Bahkan, kalangan pengamat, analis ekonomi, dan pengusaha, mencurigai Gubernur BI yang baru terpilih Darmin Nasution mau bikin “proyek” mencetak uang rupiah baru.
Menurut saya,pro-kontra yang terjadi saat ini terletak pada perbedaan pemahaman terhadap pengertian Denominasi Rupiah itu sendiri,masyarakat kebanyakan masih menganggap bahwa Denominasi Rupiah itu sama dengan Sanering Rupiah.Padahal keduanya sangat berbeda. Baik secara pengertian maupun pelaksanaan dan manfaatnya sendiri.
Berikut perbedaan denominasi dan Sanering.
Untuk mencegah terjadinya salah pengertian antara redenominasi dan sanering, Bank Indonesia memberikan perbedaan secara rinci seperti berikut ini.
1. Pengertian
Redenominasi (Denominasi)
Adalah penyederhanaan denominasi (pecahan) mata uang menjadi pecahan lebih sedikit dengan cara mengurangi angka nol (digit) tanpa mengurangi nilai mata uang tersebut. Misalnya Rp 1.000 (seribu rupiah) menjadi Rp 1 (satu rupiah). Nilai kedua pecahan atau denominasi hasil redenominasi tersebut sama persis.
Sanering
Adalah pemotongan daya beli masyarakat melalui pemotongan nilai uang. Hal yang sama tidak dilakukan pada harga-harga barang, sehingga menyebabkan daya beli masyarakat menurun.
Catatan:
Hal yang sama secara bersamaan dilakukan juga pada harga-harga barang, sehingga daya beli masyarakat tidak berubah.
Contoh untuk satu (1) kilogram (kg) beras dengan harga Rp 5.000 per kg
Pada redenominasi (Denominasi)
Bila terjadi redenominasi per seribu rupiah atau tiga angka nol (tiga digit) maka dengan uang sebesar Rp 5 (lima rupiah) orang tetap dapat membeli 1 kg beras karena harga 1 kg beras juga dinyatakan dalam satuan pecahan yang sama (baru).
Pada sanering
Bila terjadi sanering per seribu rupiah, maka dengan Rp 5 (lima rupiah) orang hanya dapat membeli 1/5.000 atau 0,005 kg beras.
2. Dampaknya dalam kehidupan
Pada redenominasi
Tidak ada kerugian yang ditimbulkan karena daya beli tetap sama.
Pada sanering
Menimbulkan banyak kerugian karena daya beli turun drastis.
3. Tujuan
Redenominasi
Bertujuan menyederhanakan pecahan uang agar lebih efisien dan nyaman dalam melakuan transaksi.Indonesia adalah Negara yang memiliki pecahan uang terbesar kedua setelah dongVietnam(VND)500.000.Tujuan berikutnya, mempersiapkan kesetaraan ekonomi suatu negara (Indonesia) dengan negara lain di tingkat yang lebih besar (regional, internasional).
Sanering
Bertujuan mengurangi jumlah uang yang beredar akibat lonjakan harga-harga. Hal ini dilakukan karena terjadi hiperinflasi (inflasi yang sangat tinggi).
4. Nilai uang terhadap barang
Pada redenominasi
Nilai uang terhadap barang tidak berubah karena hanya cara penyebutan dan penulisan pecahan uang saja yang disesuaikan.
Pada sanering
Nilai uang terhadap barang berubah menjadi lebih kecil, karena yang dipotong adalah nilainya.
5. Kondisi saat dilakukan
Redenominasi
Dilakukan pada saat kondisi makro ekonomi stabil atau mengalami pertumbuhan tumbuh dan inflasi terkendali.
Sanering
Dilakukan dalam kondisi makro ekonomi tidak sehat, atau tidak stabil dan inflasi sangat tinggi (hiperinflasi).
6. Ada masa transisi
Redenominasi
Dipersiapkan secara matang dan terukur hingga masyarakat dinilai siap. Persiapan matang dilakukan agar kebijakan seperti ini tidak menimbulkan gejolak di masyarakat.
Sanering
Biasanya dilakukan secara mendadak atau tidak ada masa transisi. (sumber:Humas BI)
Kelemahan Denominasi Rupiah
Bagai pepatah lama mengatakan: “Tak ada gading yang tak retak”,begitu juga dengan setiap kebijakan-kebijakan,tak ada yang sempurna,yang terus secara spontan membuat revolusi besar.
Denominasi Rupiah, kali ini didanai dari Surat Utang Negara (SUN). Penjualan SUN Denominasi Rupiah ini dilakukan di Bursa Efek Indonesia (BEI). Dengan memakai SUN untuk memodali proyek denominasi ini akan semakin menmbah hutang negara. Citra buruk dengan semakin meningkatnya ketergantungan negara dengan hutang negara asing. Masih banyak “PR” yang harus dikerjakan pemerintah dalam memperbaiki keuangan negara.
Seharusnya pemerintah bukan mengumpulkan dana dari utang, tetapi menabung dalam bentuk emas dari sebagian penghasilannya.
Proses Denominasi Rupiah
Pro-kontra it uterus saja terjadi diberbagai kalangan,namun Wapres Budionoe telah menjelaskan bahwa ini baru sebuah rencan adan study. Di Negara manapun,setiap bank central akan melakukan study untuk setiap opsi-opsi yang memungkinkan. Tambah lagi Darmin Nasution,Gubernur terpilih BI menjelaskan bahwaapabila rencana Denominasi Rupiah ini benar dilaksanakan, prosesnya akan membutuhkan waktu sekitar 10 tahun,dalam beberapa tahapan.,dan akan dimulai dari tahun 2011 hingga 2022.
Tahapan pertama adalah sosialisasi,yang dimulai dari tahun 2011 s/d 2012. Kemudian baru dilakukan redenominasi pada 2013. Tahapan ini disebut masa transisi sampai 2015. Pada masa transisi digunakan dua nilai rupiah,misalnya ditoko-toko menjual barang X,maka akantercatat dua label harga,misalnya barang X berharga Rp.10.000,- rupiah lama,maka akan tertulis Rp.10.000,-/Rp.10,-baru.Pada masa transisi itu berlaku kedua-duanya,dan masyarakat bebas memilih.
Darmin kemudian menjelaskan, pada tahun 2016-2018 dilakukan penarikan uang rupiah lama sampai habis. “Dan pada 2019 sampai 2022 tulisan cap ‘baru’ pada uang rupiah baru akab dihapus dan nilai rupiah akan semakin tinggi nilainya,” tukasnya. Setelah dana terkumpul dirasa cukup oleh pemerintah, maka sanering segera dimulai. Memang wacana sanering rupiah sudah lama muncul sejak Reformasi 1999, dan kini mendekati kenyataan. Rencananya Rp 1000 saat ini akan diganti dengan Rp 1 baru, tentu dengan gambar uang kertas yang nyaris serupa. Misalnya Rp 100.000 yang bergambar Soekarno-Hatta akan ditarik, dan ditukar dengan Rp 100 baru yang juga bergambar Soekarno-Hatta, seperti dulu ketika BI menarik uang plastik Rp 100.000 berbahan polymer gambarnya hanya dimodivikasi. Lembaran bergambar I Gusti Ngurah Rai yang bernominal Rp 50.000, kelak ditukar menjadi Rp 50. Begitu pula dengan rupiah pecahan lainnya, tetapi kali ini uang kertas Rp 1000 kemungkinan besar diganti dengan koin, jadi uang kertas terkecil nantinya Rp 2 baru bergambar Pangeran Antasari. Untuk uang logam, akan di mulai dari nominal 50 sen untuk mengganti Rp 500, dan Rp 1 untuk mengganti Rp 1000.
Begitu pula dengan nilai nominal rupiah dalam rekening bank dan slip gaji kita. Akan otomatis dipangkas 3 digit dalam penulisannya. Misalnya: rekening tabungan Rp 1.525.720,00 akan ditulis Rp 1.525,72 dan ini tentu lebih efisien, sebab denominasi rupiah akan mengangkat citra mata uang republik ini di mata dunia internasonal, karena penulisan rupiah setara dengan penulisan mata uang lain. Uang baru nantinya akan beredar bersama dengan rupiah sekarang, dan pedagang nantinya diwajibkan untuk menulis harga barang dengan dua jenis rupiah secara berdampingan. Misalnya: 1 Kg beras Rp 6.000, menjadi 1 Kg beras Rp 6000 / Rp 6 baru. Hal ini tidaklah aneh, tanpa disadari kebiasaan masyarakat saat ini memangkas nilai uang dalam istilah sehari-hari, mereka menyebut 50 untuk nominal Rp 50.000, juga 120 untuk Rp 120.000.
Denominasi ini katanya untuk mencegah diterbitkannya rupiah dalam nominal yang lebih besar lagi akibat inflasi. Beberapa waktu yang lalu, memang dikuatirkan oleh belbagai pihak bahwa nominal dalam lembaran rupiah akan terus membengkak, bahkan hingga 7 digit, yaitu Rp 1.000.000. Kekuatiran ini diawali oleh rencana terbitnya Rp 200.000 dan Rp 500.000 pasca beredarnya uang kertas Rp 2000 pada tahun 2009 kemarin.
Kalau menurut pendapat saya,saya setuju saja dengan rencana Denominasi Rupiah tersebut. Karena selain menaikkan citra bangsa dimata Internasional,karena nilai mata uang kita bisa setara dengan mata uang lain,contohnya saja sekarang itu 1U$=Rp.9000,-sekian,dan setelah Denominasi 1U$=Rp.9,-. Kita juga tidak perlu membawa uang banyak-banyak,misalnya anda ingin melakukan transaksi jual beli dalam skala besar,biasanya anda memerlukan koper atau tas untuk membawa uang,setelah Denominasi anda cukup membawa dompet. Selain itu kita akan menjadi manusia yang menghargai uang,bayangkan saja saat ini,Rp.50,-sudah tidak ada artinya lagi bagi kebanyakan masyarakat.
Yah,sejauh rencana pemotongan nilai rupiah tersebut juga diikuti dengan penurunan nilai jual barang,saya setuju saja,memang akan memakan waktu dan biaya yang cukup besar,apalagi pendanaan nya diambil dari SUN,namun apabila dijalankan secara konsisten dan baik,semuanya akan berjalan lancar.
Langganan:
Postingan (Atom)